Kamar Horror

Misteri Lukisan Malaikat di Gedung Singa Surabaya

Bangunan tua di kawasan Jembatan Merah, Surabaya, Misteri Lukisan Malaikat kembali mencuri perhatian publik. Bukan hanya karena arsitekturnya yang megah, tetapi juga keberadaan sebuah lukisan unik yang berada tepat di atas pintu masuk Gedung Singa.

Lukisan tersebut menampilkan sosok malaikat bersayap yang berdiri di antara dua perempuan yang sedang menggendong anak. Sekilas terlihat seperti ornamen biasa. Namun, di balik detailnya, tersimpan banyak tafsir yang hingga kini masih menjadi misteri.

Tidak sedikit peneliti sejarah hingga pemerhati heritage mencoba memecahkan makna dari karya seni lawas tersebut. Ada yang menilai lukisan itu sebagai simbol perlindungan. Namun, sebagian lainnya menganggapnya sebagai kritik halus terhadap kolonialisme Belanda di Indonesia.

Sejarah Gedung Singa Surabaya

Gedung Singa berada di kawasan bersejarah Jalan Jembatan Merah, Surabaya. Bangunan ini sudah berdiri sejak awal 1900-an dan menjadi salah satu ikon peninggalan kolonial Belanda di Kota Pahlawan.

Masyarakat Surabaya mengenalnya sebagai “Gedung Singa” karena terdapat dua patung singa bersayap di bagian depan bangunan. Patung tersebut tampak seperti penjaga pintu utama gedung.

Dahulu, bangunan ini di gunakan sebagai kantor perusahaan asuransi kolonial bernama Algemeene Maatschappij van Levensverzekering en Lijfrente. Seiring waktu, fungsi bangunan berubah dan kini menjadi bagian dari sejarah panjang perkembangan Surabaya.

Selain patung singa, bagian yang paling menarik perhatian adalah relief keramik bergambar malaikat yang berada di bagian depan gedung.

Sosok Malaikat yang Menjadi Misteri

Lukisan tersebut di buat oleh seniman ternama kelahiran Purworejo, Jan Toorop. Ia di kenal sebagai pelukis berdarah Indo-Eropa yang sering menggabungkan budaya Jawa dan Eropa dalam karya-karyanya.

Dalam lukisan itu terlihat:

Peneliti heritage asal Belanda, Petra Timmer, menyebut sosok bersayap tersebut sebagai “protective angel” atau malaikat pelindung.

Menurutnya, lukisan itu menggambarkan perlindungan perusahaan asuransi terhadap ibu dan anak ketika sang ayah meninggal dunia. Karena itulah, simbol malaikat di pilih sebagai representasi perlindungan dan keamanan.

Simbol Timur dan Barat dalam Satu Lukisan

Yang membuat lukisan ini semakin menarik adalah perpaduan unsur budaya Barat dan Jawa di dalamnya.

Perempuan Eropa dalam lukisan tampak mengenakan gaun khas Barat dengan rambut panjang berwarna terang. Sementara perempuan di sisi lain memakai kebaya dan tampil dengan ciri khas perempuan Jawa.

Banyak pihak menilai penggambaran ini bukan tanpa alasan.

Jan Toorop di ketahui sering memasukkan identitas budaya Jawa ke dalam karya-karyanya. Karena itu, sebagian peneliti menganggap lukisan tersebut sebagai simbol hubungan antara dunia Timur dan Barat pada masa kolonial.

Namun, tafsir itu tidak berhenti di sana.

Diduga Menjadi Kritik Halus terhadap Kolonialisme

Misteri Lukisan Malaikat di Gedung Singa Surabaya

Peneliti sejarah dari Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo, memiliki pandangan berbeda mengenai lukisan tersebut.

Ia menilai karya itu justru menyimpan pesan kritik terhadap praktik kolonialisme Belanda saat itu.

Menurut Kuncar, perempuan Jawa dalam lukisan di gambarkan lebih muram di banding perempuan Eropa. Hal itu di anggap sebagai simbol ketimpangan sosial yang terjadi pada masa kolonial.

Interpretasi tersebut semakin kuat karena arsitek Gedung Singa, Hendrik Petrus Berlage, di kenal sebagai tokoh yang cukup kritis terhadap kolonialisme.

Karena itulah, sebagian pemerhati sejarah menduga lukisan tersebut menjadi media ekspresi terselubung untuk menyampaikan kritik sosial.

Detail Kecil yang Memicu Banyak Tafsir Misteri Lukisan Malaikat

Selain figur utama, beberapa detail kecil dalam lukisan juga mengundang rasa penasaran.

Salah satunya adalah posisi kaki sosok malaikat yang tampak condong ke arah perempuan Eropa. Ada yang menafsirkan posisi itu sebagai simbol keberpihakan layanan terhadap warga Eropa pada masa kolonial.

Tak hanya itu, terdapat pula simbol bulir gandum dan jam pasir di dalam relief.

Sebagian pemerhati sejarah mengaitkan simbol tersebut dengan kisah tujuh tahun masa panen dan tujuh tahun paceklik dalam cerita Nabi Yusuf.

Bulir gandum segar di sisi perempuan Eropa di anggap melambangkan kemakmuran. Sementara gandum layu di sisi perempuan Jawa di artikan sebagai simbol kesulitan hidup masyarakat pribumi kala itu.

Detail-detail inilah yang membuat lukisan di Gedung Singa terus menjadi bahan di skusi hingga sekarang.

Gedung Singa Kini Menjadi Daya Tarik Wisata Heritage

Meski usianya sudah lebih dari satu abad, Gedung Singa masih berdiri kokoh di kawasan Kota Lama Surabaya.

Bangunan ini kerap menjadi lokasi wisata sejarah, fotografi, hingga prewedding karena memiliki arsitektur klasik yang unik.

Banyak wisatawan datang bukan hanya untuk melihat kemegahan gedungnya, tetapi juga mencari tahu misteri di balik lukisan malaikat tersebut.

Apalagi, suasana kawasan Jembatan Merah yang penuh cerita sejarah membuat aura bangunan ini terasa semakin kuat.

Arsitektur Kolonial yang Masih Terjaga

Gedung Singa menjadi salah satu contoh bangunan kolonial yang masih mempertahankan detail arsitektur aslinya.

Mulai dari pilar besar, ornamen klasik, hingga relief keramiknya masih terlihat jelas. Bahkan, beberapa peneliti menyebut gedung ini sebagai salah satu karya penting arsitektur modern Belanda di Hindia Belanda.

Kehadiran dua patung singa bersayap di bagian depan juga menambah kesan megah sekaligus misterius.

Menariknya, ada pendapat yang menyebut patung tersebut sebenarnya bukan singa, melainkan jaguar bersayap yang melambangkan perlindungan dan kekuatan.

Misteri Lukisan Malaikat yang Membuat Gedung Ini Tetap Hidup

Hingga kini, belum ada satu tafsir tunggal mengenai makna sebenarnya dari lukisan malaikat di Gedung Singa Surabaya.

Sebagian melihatnya sebagai simbol perlindungan perusahaan asuransi. Sebagian lain menilai karya itu menyimpan kritik terhadap ketimpangan sosial pada masa kolonial.

Justru karena penuh misteri, bangunan ini tetap menarik untuk di bahas dari generasi ke generasi.

Di tengah modernisasi kota, Gedung Singa menjadi pengingat bahwa Surabaya menyimpan banyak cerita lama yang belum sepenuhnya terungkap.

Kesimpulan

Misteri lukisan malaikat Gedung Singa Surabaya bukan sekadar cerita tentang ornamen bangunan tua. Relief tersebut menyimpan lapisan makna yang berkaitan dengan sejarah kolonial, simbol perlindungan, hingga dugaan kritik sosial.

Keberadaan karya Jan Toorop itu membuat Gedung Singa bukan hanya bernilai arsitektur, tetapi juga memiliki nilai budaya dan sejarah yang kuat.

Bagi pecinta sejarah dan wisata heritage, bangunan ini menjadi destinasi menarik yang wajib di kunjungi saat berada di Surabaya.

Jika Anda menyukai kisah sejarah unik seperti ini, jangan lewatkan eksplorasi bangunan tua lainnya di kawasan Kota Lama Surabaya.

Exit mobile version